SuratanBali.Com, BADUNG - Garam lokal yang dihasilkan petani garam dengan proses tradisional di Bali masih kesulitan menembus pasar ritel modern.
Kondisi itu disampaikan langsung oleh Gubernur Bali, Wayan Koster dihadapan akademisi dari 67 Universitas se-Indonesia yang tergabung dalam Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Perikanan dan Kelautan Indonesia (FKPTPKI).
Pada forum yang berlangsung di Gedung Widyasabha Kampus Universitas Udayana, Bukit Jimbaran, Selasa (19/5), Gubernur Koster menyebut sulitnya garam tradisional Bali menembus pasar ritel modern, karena garam lokal dinilai kurang mengandung yodium, sehingga belum berlabel Standar Nasional Indonesia (SNI). “Ini yang agak lucu, katanya garam trandisional Bali kadar yodiumnya kurang dari 20, saya sudah sempat komunikasikan ini dengan BPOM,” ujarnya.
Atas kondisi itu, Koster memandang perlunya mendapat perhatian oleh semua pihak agar regulasi pemerintah tidak kontraproduktif dengan upaya pemanfaatan potensi laut yang sebenarnya begitu besar. “Potensi besar, tapi justru tidak dimanfaatkan dan kita malah import,” cetusnya.
Dalam forum tersebut, Wayan Koster berharap kegiatan FKPTPKI yang beranggotakan para akademisi ini mampu juga menghasilkan rumusan untuk menjadi masukan pada pemerintah dalam mengambil kebijakan terkait optimalisasi potensi perikanan dan kelautan di Indonesia, khususnya di Pulau Bali.
Sementara Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana, I Wayan Nuarsa mengatakan dunia kampus memiliki peran besar dalam mempercepat terwujudnya ekonomi biru. "Prodi kelautan dan perikanan ini punya peran strategis dalam mengoptimalkan potensi kelautan. Saya berharap, pertemuan ini bisa menjadi ruang diskusi, sharing pengalaman hingga merumuskan solusi bersama dalam menghadapi berbagai tantangan terkait penguatan institusi," ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Rektor UNUD, I Ketut Sudarsana. Katanya, pertemuan FKPTPKI harus menjadi momentum untuk menghasilkan gagasan yang konstruktif dan riset di bidang perikanan dan kelautan.SB/**
Bagikan